17.11.08

Sleepy Midnight

Dengan tas penuh buku dan beraneka ragam alat tulis, saya menumpang dengan orang tua saya (yang kebetulan juga mau keluar) untuk pergi ke Primagama di Jalan Perintis Kemerdekaan. Hari ini saya akan mengikuti Midnight bersama anak-anak Primagama lainnya. Saat saya telah sampai di depan Primagama sekitar pukul 5.30 PM, beberapa anak yang mengikuti bimbingan belajar di Primagama Perintis telah datang, diantaranya adalah Ridho, Yunus, Opick, Intan, Odha, Wakiah, Lulu, Ratna, dan anak yang belum saya hapal namanya karena saya jarang masuk. Saya bersemangat sekali untuk mengikuti midnight karena saya ingin mengejar materi pelajaran yang belum saya kuasai dan ingin benar-benar serius belajar. Saya belum pernah mengikuti midnight sebelumnya tetapi yang saya tahu dari kakak saya yang dulu mengikuti bimbingan belajar di JILC, midnight itu sepertinya sangat seru dan berguna.

Sesaat setelah saya sampai di PG, saya dan Ridho berusaha meminjam motor Minggus (FO), karena ingin pulang ke BTP mengambil motor, agar dapat bebas kemana-mana saat sudah sampai di Primagama Cabang jalan ratulangi tempat Midnight. Terutama karena ingin pergi ke penutupan Jubel IBB Cup. Tetapi Minggus tidak mau. Pukul 6 PM semua anak sudah berada dalam mobil jemputan, sebagian mengendarai motor. Di dalam mobil kami berjejal dan cukup padat. Saya duduk di bagian belakang, bersama yunus, ridho dan opick. Sementara anak perempuan duduk ‘manis’ di samping supir dan bagian tengah mobil. Dalam perjalanan ke PG Ratulangi, anak-anak di dalam mobil berceloteh tanpa putus. “Ini mi dibilang mtos di’?” kata salah satunya sambil menunjuk-nunjuk Mall Panakukang. Yang lainnya tertawa. Kalau saya tidak mengenal sifat mereka yang memang suka melucu, mungkin saya sudah merasakan Ilfil. :D Haha

Sekitar pukul 7 malam, di tempat midnightnya, berangsur-angsur anak-anak dari cabang ratulangi juga mulai berdatangan. Saya baru tahu kalau ternyata anak-anak Primagama ratulangi juga akan bergabung dengan kami dalam Midnight. Saya lebih terpongah lagi, karena jumlah mereka banyak, sekitar 2 kelas(mungkin 25 orang). Ruang belajar kami cukup luas dan semuanya duduk di lantai yang dilapisi karpet, terdapat sebuah papan tulis besar dan projektor. Setelah makan malam, dan saat bakteri ecolli dalam perut mulai bekerja membantu pencernaan makanan, soal yang terdiri dari soal matematika, bahasa indonesia dan biologi dan disebarkan ke setiap peserta midnight. Saya masih semangat dibagian ini. Soalnya cukup banyak dan sebagian anak mulai mengerjakannya dengan serius, sebagian lainnya sibuk dengan dunianya sendiri, mengobrol dsb.

Setelah pembahasan soal bahasa indonesia, saya mulai merasakan kebosanan. Kami diminta untuk menyelesaikan soal matematika dan biologi sebelum pembahasan soal oleh tentor. Awalnya saya mau mengerjakan soal matematika no.1, tetapi saya kurang paham, saya cari penyelesaiannya dibuku, tapi tetap bingung. Tulang punggung saya sudah cukup sakit, karena terus duduk. Saya coba tengkurap sambil mengerjakan soal, lama-kelamaan terasa pegal. Dan akhirnya saya lelah berusaha mengerjakan soal matematika. Saya mencoba soal biologi yang materinya tentang, tetapi tidak bisa menjawabnya. Akhirnya saya menyerah, dan berencana untuk mencermati pembahasan tentor nantinya.

Sementara sebagian siswa sibuk mencari jawaban. Ruangan belajar yang diisi mungkin 40 orang anak itu sangat ribut. Terutama karena anak-anak tuan rumah yang tidak pernah berhenti berteriak-teriak, berceloteh riang, tertawa-tawa, menyalakan TV dengan suara full dan sebagainya. Ruangan belajar juga sangat berantakan karena kertas-kertas, buku-buku, bekas makan malam dan sebagian anak-anak mulai terkapar di lantai.

Pada pukul 1 dinihari, pembahasan soal matematika sudah dimulai. Saya bersandar di dinding sambil memperhatikan pembahasan soal, tetapi malas mencatat. Disini saya sudah mengantuk, dan memaksa untuk tetap terjaga. Akhirnya ditengah pembahasan, ridho dan yunus yang merasakan hal yang sama mengajak untuk berpura-pura ingin shalat isya di ruang shalat. Jadi, kami pun keluar dan mendaki tangga hingga lantai tiga dimana ruang shalat yang kosong berada. Sebenarnya kami sudah shalat, kami hanya ingin tidur di ruang tersebut. Di ruang shalat terdapat banyak sajadah dan ada karpetnya yang nyaman, sangat pas untuk mereka yang telah lelah berbungkuk-bungkuk dan mengantuk. Begitulah akhir dari midnight kami yang sleepy, sementara anak-anak lainnya sibuk diruang belajar kami tidur-tiduran di ruang shalat sambil mengobrol. Setelah lama mengobrol kami akhirnya tertidur dan bangun saat subuh tiba. Haha. Pukul 7 lewat, mobil jemputan kami tiba dan kami pun pulang.

¾