2.11.08

Van Der Wijck

Saya mendapat tugas membuat resensi roman dari Pak Habab, guru bahasa indonesia. Selain saya dan teman-teman saya di 3 IPA 2, kelas lain yang mendapat tugas yang sama adalah kelas-kelas lain yang diajar Pak Habab, seperti kelas IPA1,IPA3 dan IPA 6. Jenis buku yang akan diresensi adalah buku roman dan hikayat. Saya sebenarnya tidak mengerti apa perbedaan dari roman dan hikayat. Tapi yang saya tahu, roman adalah jenis novel yang menceritakan kehidupan tokoh utamanya semenjak tokoh utamanya lahir (atau malahan belum lahir sama sekali) sampai tokoh utamanya meninggal atau setidaknya telah tua. Jadi d dalam benak saya, saya memikirkan sebuah cerita yang sangat panjang dan rumit.

Judul dari roman atau hikayat yang akan diresensi oleh tiap-tiap siswa ditentukan oleh Pak Habab sendiri. Judulnya macam-macam, ada yang sudah sering di dengar (atau difilmkan) hingga ke roman yang judulnya sangat asing. Roman dan hikayat yang dimaksud juga rata-rata berasal dari era 1920-1980. Ada yang mendapatkan Siti Nurbaya (kemungkinan besar yang mendapatkan judul ini tidak akan mau membaca novelnya, karena ceritanya sudah diketahui), Sengsara Membawa Nikmat, Hulubalang Raja, La Hami, Neraka Dunia dan lain-lain. Saya sangat mengerti bahwa anak-anak kelas saya pasti sangat malas membaca novel yang diberikan kepada mereka. Bukan hanya karena ceritanya yang terkesan ketinggalan jaman dan bahasanya yang sulit dimengerti (belum menggunakan ejaan yang disempurnakan) tetapi karena pertimbangan tebalnya buku yang akan diresensi.

Saya sendiri mendapatkan sebuah buku berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Nama penulisnya adalah Hamka. Saya mendapatkan bukunya di perpustakaan sekolah, dan bukunya terlihat sudah sangat usang dan tua. Bukunya berwarna biru tua dan sudah bocel-bocell Mmungkin karena dipinjam oleh siswa yang terpaksa meminjamnya karena tugas bahasa indonesia. Pada halaman pertamanya terdapat tulisan, dicap dengan menggunakan stempel, berbunyi “Sumbangan Kenang-kenangan, Siswa kelas III yang tamat, Tahun Ajaran 1989/1990, pada SMA Negeri 5 Ujung Pandang”. Novel ini diterbitkan pada tahun 1939, dan yang saya dapatkan adalah cetakannya yang ke-8. Bukunya terdiri dari 224 halaman dan banyak sekali kalimat dalam bukunya yang digaris-garis bawahi seenaknya dengan menggunakan pulpen dan pensil.

Sejauh ini, saya sudah membacanya hingga halaman ke 62. Tokoh utama dalam buku ini adalah Zainuddin yang jatuh cinta kepada Hayati. Coba tebak Zainuddin berasal dari mana? Kalo diperhatikan dari namanya yang berakhiran –uddin, berarti...dia dari Makassar. Karena masyarakat atau keturunan bugis makassar sering menggunakan akhiran –uddin contohnya Sultan Hasanuddin, Alimuddin, dan lain-lain. Zainuddin merupakan seorang anak dari keturunan bangsawan yang dibuang ke Mengkasar (Makassar), dan ibunya berdarah Bugis. Saat Zainuddin yang yatim piatu telah dewasa, dia pun kembali ke Padang Panjang, negeri asal nenek moyangnya. Di sana, ternyata dia tidak diakui sebagai orang Padang, karena ibunya bugis dan ayahnya telah dibuang. Dia juga dilarang berhubungan dengan Hayati karena dia bukan keturunan bangsawan. Hayati digambarkan dalam novel: ...gadis remaja puteri, ciptaan keindahan alam, lambaian gunung merapi, yang terkumpul padanya keindahan adat istiadat yang kokoh dan keindahan model sekarang, itulah bunga di dalam rumah adat itu.” OMG, lebay sekali! Awalnya saya takjub membaca roman ini karena bahasanya yang sangat puitis dan menggunakan kata-kata yang sudah tidak laku lagi, dan susunan kalimatnya sangat berbeda dengan tulisan jaman sekarang. Haha

Membaca roman ini, menurut saya menambah pengetahuan tentang budaya. Terutama karena zainuddin dibesarkan di Mengkasar (makassar ditulis mengkasar di bukunya) dan ada cerita tentang lapangan karibosi. Kutipannya seperti ini: “sebelah timur adalah tanah lapang Karibosi yang luas dipandang suci oleh penduduk Mengkasar. Menurut takhayul orang tua-tua, bilamana hari akan kiamat, Kara Eng Data akan pulang kembali, di tanah lapang karibosi akan tumbuh 7 batang beringin dan berdiri 7 buah istana, persemayaman 7 orang anak raja-raja pengiring dari Kara Eng Data.” Kalau dilihat dengan kondisi karebosi yang sekarang, how will the writer say about? Sangat jelas, kalau dipikir, tidak mungkin akan tumbuh 7 beringin dan 7 buah istana di Karebosi yang sekarang, selain karena sudah dibeton, juga pasti istana dan pohon-pohonnya tidak akan muat. Hahaha Mau gusur MTC?

Saya belum menemukan Van der wijck itu siapa atau apa? Padahal itu yang saya suka roman ini, judulnya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Mirip-mirip dengan Spiderwick (spi Der Wick). Hehe

¾