29.1.09

I love Goodnight Electric, White Shoes and the Couples Company and the Upstairs

Kenal musik goodnight electric? White shoes and the Couples Company? Atau The Upstair? Pernahkah anda mendengar lagu berjudul Interval? Atau lagu Terekam tak Pernah Mati? Am I robot? Roman ketiga? Dizzy? Digital Video FestivaL? Atau setidaknya pernahkah anda mendengar nama mereka disebut? Atau judul lagu mereka terngiang-ngiang di telinga anda? You know, I love ‘em!

The Upstairs, Goodnight Electric dan White Shoes and The Couples Company merupakan tiga band yang saya sukai selain Coldplay, Counting Crows , Kings of Convenience dan Radiohead. Tetapi dari semua lagu yang sering saya dengar dan putar secara loudspeaker, lagu-lagu dari mereka-lah yang sering sekali mendapatkan sorotan dari orang-orang di sekitar saya. Sering sekali, saat saya sedang asyik mendengar lagu-lagu mereka, mereka (orang-orang disekitar saya) akan berkata, “lagu apa itu?” yang saya terjemahkan sebagai bentuk halus dari “gila loe! dengar lagu apaan sih? Aneh banget!”. Mau sih ngejelasin blablabla, kalau mereka ini adalah blala… tapi cape deh! Bodo amat, gue lagi asyik nih! kak rijal pernah berujar, “lagunya sam, nda ada yang beres!”. Hihi.

Saya ingat betul pertama kali memutar lagu Matraman (the upstairs) secara bombastis dan seisi rumah saya langsung terbangun dan terheran-heran. Mungkin lirik the upstairs yang memang enggak biasa, merasuk kedalam telinga keluarga saya, dan melalui urat syaraf disampaikan ke otak mereka, dan otak mereka tidak mampu menemukan music yang sepadan dengan apa yang sedang mereka dengar dan jadilah otak mereka memberikan respon “lirik aneh, music tak dikenal” dan lalu pesan itu dihempaskan ke mulut mereka, dan keluarlah kata-kata itu, “anehnya lagunya!” atau “lagu apa itu?!” atau “haha, konyolnya!”. Saya masih mengingat ekspresi aneh Aldy, teman saya (bukan aldy kakak saya), saat dia sedang berkunjung kerumahku dan dia mendengar lagu the upstairs, dia berceletuk “lagu apa itu?” (sebelumnya saya sudah menduga dia akan berkata seperti itu). Hahaha…

Pembaca yang terhormat, sewaktu masih kelas 2 SMA the upstairs benar-benar saya sukai sampai-sampai saya bertindak sesuatu yang bagi orang disekitar saya adalah nekad dan gila (walaupun buat saya itu oke-oke saja). Waktu itu adalah puncak-puncaknya saya suka dengan the Upstairs. Kegilaan pertama, waktu itu saya terlambat masuk kelas bahasa jerman.Sebagai hukuman, guru saya, waktu itu Frau Ningsih, memaksa saya untuk bernyanyi di (depan kelas) kalau tidak saya tidak diizinkan masuk kelas. Dengan terpaksa saya pun menyanyi. Pertma, saya bernyanyi jingle fiery…haha…teman2 sekelas saya langsung (XI IPA 2) protes. Waduh, ya sudahlah sebagai seorang modern darling…saya pun mulai bernyanyi lantang:

kita di masa depan! Dan sedang menuju Jakarta barat. Sebelum fatahillah! Ada baiknya berputar arah! Tepat di glodok raya. Terdapatlah pusat film Negara. Istana dongeng dunia, dari Hollywood hingga ke iran. Mari pesta! Digital! Video! Festival… digital video festival!” (Digital Video festival-The Uptsairs)

Semenjak itu kelas gw jadi heboh/geger. Saya tau mereka heran dan bertanya-tanya, Jakarta barat? Video festival? Kok dari masa depan langsung ke Jakarta barat? Trus glodok raya ngapain? Pesta???? What…?Haha… sementara teman-teman saya dan Frau Ningsih bingung dan heran-heran, saya cuma take a seat dan senyum-senyum sendiri. Anehnya, beberapa minggu kemudian, saat saya sedang apes dan mengantri untuk menyanyi karena telat masuk kelas bahasa jerman. Pas giliran saya menyanyi, Frau Ningsih berkata cepat-cepat “nda usah mi kau nyanyi deh! Lain-laingi lagumu! Duduk meko!”. Hahaha….yes,yes! Hahaha… Bayangkan saja sebegitu stress kah Frau Ningsih sampai saya direlakan untuk langsung duduk manis, instead of having detention. Sedih juga sih, padahal saya sudah menyiapkan lagu the upstairs yang lain untuk saya persembahkan ke teman-teman sekelasku. “kan ku persembahkan sekuntum mawar…aku di matraman..kau di kota… kembang!”.

Tapi yang paling menyenangkan adalah saat merayakan kemenangan karena berhasil membawa pulang beberapa piala (abis lomba di Seeds in Mood 3, SMAN 17 MKS), waktu itu disaksikan oleh sejumlah anak Fiery yang hadir (di KFC Jalan Ahmad Yani), saya dan kak azhar…berdisko darurat. Diiringi lagu disko daruratnya the upstairs..kami pun berdansa ala Jimmi Multazam, vokalis the upstairs. Anak-anak fiery ketawa setengah mati waktu itu.

Dia bicara cemerlang. Kujadikan pembenaran. Senin esok menghilang. Ku hanya sempat terpukau! Yah, begitulah saya terpukau dengan lagu-lagu dan music the upstairs. Bagi saya, musik yang bagus adalah musik yang bisa memberikan kita inspirasi. Dan menurut saya, the upspatirs termasuk menginspirasi saya.

Lain lagi dengan Goodnight electric. Saya suka dengan mereka, karena musiknya dan liriknya. Musik GE sendiri adalah jenis music elektronica/dance. Jadi bahasa kasarnya mirip disko-disko lah. Tapi bukan disko-disko /music remix yang norak! Musik mereka tuh above dari itu semua… tak bisa dibanding-bandingkan dengan music disko atau DJ. Lirik mereka juga keren banget deh! Intinya music mereka dapat mood saya naik. Musik mereka termasuk yang menginspirasi saya. Seperti lagu mereka yang berjudul Am I Robot. Lagu itu punya lirik seperti ini:

Everyday I swore to you. To make it happen, it is true. To be the light. To see the love. It’s more than just like we both do

At the first time you and I Broke the cage you let me trough. You gave it all. And so I did. And till I fall, you said that

You are robot. Not a human. Or you are robot. Act like human

I can’t believe that life is real. I think it’s only common steel. We can’t escape. We have to choose. And play it like we used to do

I try so hard to be the one. Can handle all those complicated lies. So if you leave me now. Can’t you see? Am I failed or

Am I robot? Not a human. Or am I robot act like human”.

Nah, sebagian dari liriknya itu saya ambil dan saya balik menjadi… we are human act like robots. I like it. Saya pernah hampir menonton gig Goodnight electric di sebuah bazaar distro besar-besaran (KickFest). Tetapi karena Goodnight tampilnya pas tengah malam, dan teman saya sudah mau pulang. Akhirnya, tidak jadi. Padahal sudah berharap setengah mati. Kapan-kapan, kalo GE datang, saya pasti akan menonton kalian. Oh, I like the way you moved..its true.. I wanna dance with you!

Yang terakhir adalah White Shoes and The Couples Company. WSTCC adalah band yang terbentuk pada tahun 2002 dan musiknya influenced by Indonesian films of the 70’s and retro disco beats, as well as classic 30’s jazz (unkl.chronicles/oktober’08). Yap, jadi music yang mereka bawah adalah music era 70an (music jadul). Saya senang mendengar lagu mereka karena lagu mereka simple, relaxing, dan tidak terlalu banyak embel-embelnya. Lagu favorit saya adalah Sunday memory lane. Every time I hear to this song its like I remember all the good times I have had in my life. Like having fun on Sunday. That’s nice. I agreed with what irishtimes.com said that “the music is too wonderful – all retro-facing, darling, old-fashioned songs to learn and sing.” So put on your White Shoes today!

Seperti yang saya katakan tadi, bagi saya musik yang bagus adalah musik yang bisa memberikan kita inspirasi. And this three bands did it. I love ‘em. Even some people say their music are unusual. So, does this posting inspire you to try to listen to their music? :D It’s not too late.

People I know listen to these bands:

  1. The Upstairs: Abrar (my younger brother), Kak Azhar and Anggi

  2. Goodnight electric: no one.

  3. White Shoes and the Couples Company: Kak Azhar


¾