22.1.09

Room 234-238

(Happened on 18-21 January 2008).


Bersama dengan sembilan siswa-siswi sma
n5mks ditambah seorang guru pendamping, Bu Nurhayati HW, empat hari terakhir ini saya menghabiskan waktu di Lembaga Administrasi Negara yang berlokasi di Antang, Makassar. We’re there for a competition. The competition is Cerdas Cermat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Ketetapan MPR Haha…looks so boring! Dengar nama ajang nya saja sudah bikin kita tahu kalau lombanya pastinys yang sangat serius dan lumayan susah. Tapi ternyata…memang lombanya serius! Haha. dan semua peserta harus pandai menghapal. Lomba ini diikuti oleh 180 siswa-siswi yang datang dari 18 sekolah dari berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Ngomong-ngomong tentang menghapal. Tenang saja saudara-saudara, saya kan anak didik dari Ibu Kalsum, guru geografi saya saat masih di SMP8 yang sering skali memaksa kami untuk menghapal materi. Kalo tidak hapal, yah urusannya ribet deh. “Saya bantingko itu!” atau “saya lemparko ke kolam delapan!” adalah umpatan lazim menusuk yang sering terdengar di dalam kelas beliau.

Kata Ibu Nurhayati HW, kami smua adalah anak-anak pilihannya. ‘anak-anak pilihan’ ibu selain saya antara lain Kak Azhar, Kak Rijal, Ika Inayah (Ika), Siswanto (Anto), Deasy (eci), Fitriani K(Fitri), Aulia, Adi Maulana (Adi), dan Lely Nurmaya (Leli). Awalnya saya tidak begitu mengenal sebagian dari mereka, tetapi setelah 4 hari 3 malam bersama mereka, mereka smua memiliki krakter yang beranekaragam. Then I know, they’re such nice people. Ya, akhirnya saya tahu mereka memang bukan siswa-siswi semabarangan, mereka adalah pilihan. Nice and loving people.

Kami berhasil menang di babak penyisihan, namun akhirnya kalah pada saat babak semifinal. Awalnya saat kami tahu kami kalah, kami atau mungkin cuma beberapa dari kami, sempat shock. Bayangkan saja, kami sudah blajar sangat serius, menghapal sampai bibir dan tenggorokan kering, kekurangan tidur dan terlebih lagi karena kami tidak ingin mengecewakan Bu Nurhayati HW yang telah mempercayai kami dan mendampingi kami siang dan malam dalam kompetisi ini. Saya yakin,bahwa ibu sempat menangis, namun berusaha menahannya untuk menjaga perasaan kami. Anto berkata ia hampir saja menangis, tapi karena sadar saat itu kita berada di studio dimana semua gerak-gerik kami di awasi oleh kamera, maka ia cuma mendongak, berusaha tidak menitikkan air matanya. Tetapi Kak Azhar dan Aulia, yang memang slalu berpikiran lebih dewasa, mengatakan sesuatu yang bunyinya saya lupa, tapi intinya bermakna “nda papa” atau “kegagalan adalah bagian dari perjalanan panjang kita dalam hidup”.

Yah begitulah, kami kalah. Namun bukan kekalahan yang harus dikenang. Bukan juga rasa sakit hati karena bel yang kurang beres. Tetapi, tentang kebesaran hati, dan kenangan yang luar biasa karena yel-yel kami menang dua kali berturut-turut, kenangan saat talent show -kak rijal ‘ariel’ dan eci ‘kikan’ menyanyi diiringi Adi ‘bang aji’, kenangan menghabiskan hari-hari bersama di lantai dua LAN. We danced, we sang, we laughed…(I lose one word: together). that’s the point. Nice memories come from room number 234-238.



Tak ada tangis, yang ada konser! ..tu..wa…bangka! “pancasila…dasar negaraku…undang-undang dasar adalah landasannya…MPR lembaga negara…wadah masyarakat untuk jalankan demokrasi…sesuai dengan tun..tu..tan masyarakat! Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah, kau membuat diriku akan slalu menjungmu… mari kita sosialisasikan dalam kehidupan bermasyarakat…dalam berbangsa juga bernegara…kau adalah darahku…engkaulah landasanku…kau adalah hidupku lengkapi negriku…Indonesia kau begitu….indonesia kau begitu… jadi uud, ketetapan mpr…sempurna! Yang cerdas yang cermat, ya smunel! Smunel? Mantaaap!” (if you know the song pleas sing, hehe).

Keywords: boker, tampiling (tampilin), a leli bit(a little bit), udah ga sadar nih (udah ga sabar nih), udah lapar mati (udah hapal mati),doraemon.

¾