10.3.12

Sedikit Kesan dari Semester 3

Setelah beberapa hari penantian, akhirnya pengumuman resmi STAN mengenai IP akhirnya keluar. Pengumuman tersebut menunjukkan bahwa nilai IP saya turun secara drastis. Di semester sebelumnya, saya mendapatkan IPK 3.32, dan semester terakhir (semester 3) IP saya adalah 2.78.

Sebelumnya, saya sudah tahu IP saya kecil. Informasi tersebut saya peroleh dari ketua kelas saya yang diberitahu oleh salah satu orang dosen. Waktu itu sikap saya tidak peduli dengan nominal IP yang saya peroleh dan malah bersyukur karena lulus dari semester 3 sendiri adalah karunia luar biasa. Saya rentan di-DO. Yang penting saya lulus. Itu saja.

Tapi, mendadak saat menatap dokumen pengumuman IP, saya bersedih. Saya kecewa. Terlebih karena teman-teman dekat saya mendapatkan IP tinggi, sangat jauh dari yang saya sendiri dapatkan. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa yang salah dengan saya? Saya merasa telah belajar sangat keras. Bahkan, saya yakin telah berusaha lebih keras dari pada teman-teman saya yang lain. Hampir tiap malam saya belajar dan tiada detik yang saya lalui tanpa memikirkan belajar dan pelajaran kuliah. Teman-teman saya bersikap lebih santai. Saya merasa ini tidak adil. Malah, selama semester kemarin, saya mengamati bahwa semua mahasiswa seolah-olah menghadapi kesulitan seperti saya (mata kuliah sangat sulit dan waktu tidak banyak). Saya kecewa terhadap teman-teman yang ternyata cukup menguasai materi perkuliahan, ditunjukkan oleh IP mereka yang tinggi, tapi tidak ikut merangkul saya untuk mendapatkan pemahaman yang sama.  Saya jauh tertinggal di belakang. Saya kecewa! Saya rasa hampir semua mahasiswa telah menebar psy-trap dan psy-word.

Tapi, pada kesimpulannya, saya tidak bisa menyalahkan apa pun, siapa pun. Yang harus saya salahkan adalah diri saya sendiri. Saya harusnya bisa belajar secara strategis. Belajar keras memang perlu, tapi lebih baik lagi bila belajar secara cerdas. Saya insyaf. Saya tidak boleh menyalahkan teman-teman yang lain. Saya tidak pantas menuntut apa pun dari mereka. Justru, Saya harus ikut berbahagia karena prestasi yang mereka peroleh. Toh, selama ini mereka juga telah mendukung saya dengan berbagai cara.

Ada banyak hal yang harus saya benahi. Saya harus membenahi diri saya, membenahi pikiran saya, membenahi akhlak, kebesihan hati, dan membenahi silaturahmi. Saya yakin, dengan berbenah diri maka saya akan bisa menjadi orang yang lebih baik dan bisa mencapai banyak hal.

Saya insyaf. Usaha keras akan sia-sia tanpa strategi dan perencanaan yang matang. Belajar harus diikuti dengan latihan dan pengulangan yang berkali-kali agar saya benar-benar paham. Saya harus membenahi time management saya. Saya harus tahu kapan saatnya harus belajar, tapi tahu juga kapan harus bermain. Saya harus tahu kapan saatnya untuk tegas dan kapan saatnya untuk mentolerir.

Semester III kemarin sangat sulit bagi saya. Juga, ada banyak gangguan signifikan. Kelulusan ke semester 4 adalah karunia besar. Saya tidak akan menyia-nyiakannya. Metode belajar kemarin memang keras tapi yang saya lakukan tidak efektif. Saya harus mencari cara lain. Tetap harus keras, tapi efektif dan strategis.

Bagaimana pun, saya berterima kasih kepada dosen-dosen saya dan semua teman-teman yang telah membantu saya melewati semester 3 dan membuat saya belajar banyak hal. Dan juga, atas doa serta dukungan orang tua dan sahabat-sahabat karib. Terima kasih.

Yes, failure is always the best way to learn.

401983_2679439061229_1113862836_32171489_1749991527_n me (on the left with tie) and my classmates and tax lecturer, Pak Kardjo

¾