12.12.13

Menjadi Orang Baik atau Tidak Baik dalam Pandangan Tao dan Psikologi

DSC05509

Bacaan alternatif memang menyenangkan. Dari sekian bacaan yang membuat saya cukup terprovokasi adalah  Tao Te Ching atau Tao. Sebelumnya, saya mengira Tao, yang identik dengan niche Ying dan Yang, adalah sebuah filsafat. Tapi ternyata mengkotak-kotakkan Tao seperti itu terlalu sembrono. Tao yang berasal dari Cina adalah salah satu dari sekian banyak pemikiran timur yang berasal dari Asia. Pemikiran timur dianggap bukan filsafat karena pemikiran timur tidak rasional, tidak sistematis, dan tidak kritis. Selain itu, pemikiran Timur dianggap tidak memenuhi kaidah konvensional ilmu pengetahuan yang harus ada dalam sebuah filsafat. Pemikiran timur lebih dianggap sebagai kepercayaan religius atau agama (Bagus, 2013, hal. 1). Jadi, Tao bukanlah filsafat.

Tao yang berarti jalan adalah salah satu dari sekian banyak falsafah atau ajaran hidup atau pemikiran yang berkembang di Asia. Taoisme diajarkan oleh Lao Tzu pada abad ke-6 SM. Hikmahnya bisa diambil. Selain itu, sebagai seorang muslim keyakinan agama Islam saya tidak bisa diganti dengan Tao. Tulisan ini berusaha memberikan jawaban yang bersifat universal mengenai pilihan manusia tentang kebaikan.

Pada dasarnya, fitrah manusia adalah baik. Saya yakin tentang itu. Sama yakinnya dengan Abraham Maslow, seorang pemimpin gerakan psikologi humanis. Kemudian, ada kredo yang menyakini bahwa pada hakikatnya hanya ada kebaikan di dunia. Adanya hal-hal yang buruk dalam kehidupan manusia adalah karena ketiadaan baik. Ketiadaan baik melepaskan kejahatan, keburukan, ketamakan, kerakusan dan dsb. dari diri seorang manusia.

Orang-orang yang sering melakukan kebaikan kita sebut saja sebagai orang baik. Dan agar adil, mari kita sebut orang-orang yang sering melakukan sifat yang tidak baik sebagai orang yang tidak baik.
Sebaik-baiknya orang baik, jika tidak sering paling tidak pernah bertanya dalam dirinya “Mengapa saya harus baik kalau ada orang lain yang tidak baik? Ini rasa-rasanya tidak adil”. Kemudian, orang baik bisa jadi makin curiga dengan kebaikannya sendiri, “Kenapa saya harus baik kepada orang yang tidak baik yang sering sekali tidak tahu berterima kasih dan sering merampas hak saya?”. Pertanyaan seperti itu mungkin pernah terlintas dalam ego kita.

Waktu kecil saya jadi tahu, ada jaminan surga bagi si orang baik dan neraka bagi si orang yang tidak baik. Sehingga, keadilan mutlak akan diberikan, cepat atau lambat. Menunggu sangkakala saja. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan ego adalah mengapa orang baik pada hakikatnya memang harus baik ke pada orang yang tidak baik? Apa fungsinya? Terlepas ada surga dan neraka, atau ada pahala dan dosa. Terlepas dari ada tidaknya keadilan. Kenapa kita selalu diingatkan untuk fastabiqul khaira?

Dalam Tao kita dapat menemukan jawaban universal atas pertanyaan-pertanyaan di atas.  Pertama, Tao bab 27 berisi petuah berikut:
A kind person is the teacher of the unkind.
An unkind person is the teacher for the kind to learn.”
Dalam Tao, orang baik (a man of virtues) disebut sebagai Yang dan orang yang tidak baik (a man of war) disebut sebagai Ying. Pada petuah tersebut, Tao membuat saya ingat bahwa sebenarnya Yang diciptakan untuk menjadi guru bagi Ying. Agar dunia ini akan senantiasa penuh dengan Yang. Saling mengajarkan kebaikan, saling mengingatkan hal-hal yang baik.

Kedua, Tao bab 62 berisi petuah berikut:
“Tao is the wonder of all creations.
It is a treasure for those who are kind.
It can also protect those who are not kind.”
Pada bagian kedua dapat disimpulkan bahwa orang baik diciptakan untuk menjaga orang yang tidak baik (to protect those who are not kind). Orang yang tidak baik walaupun dia tidak baik, pada fitrahnya adalah orang yang baik, tetapi karena pengaruh lingkungan atau pengaruh setan, maka akhirnya menjadi lupa hakikat dirinya dan menjadi sesat. Kalau orang di sekitar kita kita menjadi Ying, masih perlukah kita menjadi Yang untuknya? Tentu, karena sudah tugas kita menjaga sesama manusia.

Ketiga, Tao bab 8 berisi petuah berikut:
A virtuous person like is like water which adapts
itself to the perfect place.
His mind is like the deep water that is calm and peaceful.
His heart is kind like water that benefits all.
Semua orang pernah khilaf. Tidak ada orang yang selalu menjadi orang baik, dan tidak ada orang yang tidak baik yang selalu menjadi orang yang tidak baik. Petuah ketiga berisi: his heart is kind like water that benefits all, yang berarti seorang yang baik hatinya ibarat air yang memberikan manfaat bagi siapapun. Konsep tersebut disebut dalam literatur Psikologi Humanis sebagai unconditional positive regard – kasih sayang atau dukungan yang diberikan kepada orang lain tanpa syarat yang menyertainya  (Carl Rogers, 1951, 1961). Orang yang memiliki syarat dalam memberi kebaikan (conditional postive regard) akan mengalami perasaan inkongruen (incongruence). Suatu perasaan di mana orang tidak menyadari perasaannya sendiri, atau tidak jujur dengan sendiri, yang pada akhirnya akan menghasilkan ketidakbahagiaan bagi dirinya (Wade & Tarvis, 2008).
¾